Pintu

dihari perayaan, 

berbagai warna berceceran diantara gedung, tanah, baju.

Aku mendapatimu, 

Berdiri diambang pintu,

sendirian.

Aku menghampirimu,

Masam senyummu.


Kamu bercerita, tentang mimpi2 dan harapan.

Kamu jauh memetakkan angan;

Terlalu jauh, hingga tak ada aku didalamnya.

Sorot matamu berbinar;

Tatkala kata2mu memuncak, menggapai angkasa.

Sungguh, tiada aku lagi dalam binar itu.


Diambang pintu itu, aku tersadar.

Sejauh manapun kamu melangkah,

Aku tak pernah terhitung dalam jarak itu.

Setinggi apapun kamu mengudara,

Aku tak ada dalam gravitasimu.


Mungkin; hanya aku yang menyimpanmu terlalu lekat.

Mungkin; tak akan pernah ada aku dimanapun, disisa2 angan itu.

Komentar