Lara terduduk,
Tanpa sadar ia telah morat marit menjelaskan dirinya;
Mendengarkan laut yang didepannya menggulung ombaknya,
Pelan; sedikit riak.
Bersandar ia pada nestapa,
Celaka,
bisiknya dalam hati.
Hampir ia tenggelam dalam laut yang sama.
Celaka,
Binar terang yang ia rindui.
Segera ia menyadarkan dirinya,
Celaka,
Laut itu masih ada disana,
Sedang semesta tidak mengizinkan ia menjemputnya lagi.
Waktu telah mencuri terlalu banyak
Nada bergelantungan di udara,
Sengaja tak ia dengarkan dengan seksama.
Takut akan teringat jika diputarnya kembali;
Seperti waktu waktu dulu.
Lara diujung nestapa,
Ikhlas yang berusaha digapainya,
Tanpa pamrih ia akan melawan waktu,
Walau tau ia adalah prajurit tak bersenjata,
Ribuan kali ia berdarah,
Jutaan kali juga ia bersedia;
Selalu, ada disana. Tanpa terbaca.
Komentar
Posting Komentar